Salah
satu rukun islam adalah berpuasa bagi umat islam. Puasa bulan ramadhan wajib
hukumnya bagi umat islam yang telah memenuhi syarat maupun rukun puasa yang
telah ditentukan. Bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ampunan Allah
Ta’ala. Apabila seorang mukmin/ah melaksanakan ibadah puasa karena mengharap
ridho dari Allah SWT maka akan dihapus dosanya yang lalu,
sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW
sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW
مِنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا،غُفِرَلَهُمَا تَقَدَّمَمِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa
melakukan puasa ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala disisi Allah,
niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. (HR. Bukhari no.38 dan
Muslim no.760)”
Dasar
hokum dari puasa ramadhan tertuang dalam surat Al Baqarah 183:
يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْلَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Hai orang-orang
yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kau bertaqwa (Q.S. Al Baqarah : 183)”
Maka
dari itu, wajib hukumnya bagi umat muslim untuk mengetahui serta mempelajari
hal-hal berkaitan dengan tata cara ibadah puasa ramadhan seperti syarat wajib
puasa, syarat syahnya puasa, rukun puasa maupun hal-hal yang dapat membatalkan
atau mengurangi amalan ibadah puasa.
A. Syarat
Wajib Puasa
Syarat
wajib melaksanakan ibadah puasa ramadhan adalah syarat yang harus dipenuhi dan
fardhlu hukumnya untuk dapat melaksanakan ibadah puasa ramadhan ketika seorang
mukmin telah mendapati waktu tertentu maka ia dikenakan kewajiban puasa. Adapun
syarat wajib puasa meliputi :
·
Islam
·
Sehat,
tidak dalam keadaan sakit.
·
Baligh,
sudah cukup umur untuk melaksanakan puasa.
·
Suci
dari haid dan nifas (bagi perempuan).
B. Syarat
Syah Puasa
Syarat
sahnya puasa ada dua, yaitu:
·
Dalam
keadaan suci dari haidh dan nifas. Syarat ini adalah syarat terkena kewajiban
puasa dan sekaligus syarat sahnya puasa.
·
Berniat.
Niat merupakan syarat sah puasa karena puasa adalah ibadah sedangkan ibadah
tidaklah sah kecuali dengan niat sebagaimana ibadah yang lain. Niat puasa tidak
harus selalu dilafadzkan namun cukup diucapkan dalam hati saja (An Nawawi dan
Syaikh Islam Ibnu Taimiyah) dan berniat dikaukan sebelum terbit fajar.
C. Rukun
Puasa
Yang
dimaksud dengan rukun adalah suatu yang
harus dikerjakan dalam memulai suatu ibadah. Adapun rukun puasa adalah menahan
diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar
hingga terbenamnya matahari sebagaiman firman Allah dalam Q.S Al Baqarah 187
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُا لْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَىا لَّيْلِ
“Dan makan minumlah hingga terang
bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah
puasa itu sampai (datang) malam.”
D. Hal-hal
yang Membatalkan Ibadah Puasa
Berikut
adalah hal-hal yang membatalkan ibadah puasa.
·
Makan
dan minum dengan sengaja.
·
Muntah
dengan sengaja.
·
Haid
dan Nifas.
·
Keluarnya
mani dengan sengaja.
·
Berniat
membatalkan puasa.
·
Jima’
(bersetubuh di siang hari)
Sedangkan
berikut adalah hal-hal yang dapat mengurangi amalan ibadah puasa.
·
Berkata
dan berlaku dusta.
·
Berperilaku
bodoh, dalam hal ini marah.
·
Berbicara
hal yang dapat menimbulkan syahwat.
·
Berbicara
yang tidak bermanfaat atau dapat juga diartikan dengan mempergunjingkan
(membicarakan orang lain).
·
Bertengkar.
Demikianlah
sedikit ringkasan mengenai hal ikhwal puasa ramadhan. Semoga sedikit tulisan
ini dapat bermanfaat dan semoga amal ibadah kita selama ini diterima Allah
Ta’ala, Amiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar